Persami dan Lomba Penggalang 2010 yang . . .
Sebuah pengalaman yang sangat membekas bagi kakak-kakak dan adik-adik (hasil gemblengan Pengembangan Model Gudep) yang patut kita renungkan bersama.
Persami dan lomba Penggalang yang diprogramkan oleh Kwarnas untuk diselenggarakan oleh masing-masing 33 Kwarda di negeri ini.
Di Jawa Timur, program itu dibuat untuk mengembangkan gudep dengan Program Siklus-nya yang notebene sudah merupakan ajang belajar ‘mengenal dan memelihara lingkungan’, ‘bersahabat dan bekerjasama’ serta belajar menjadi pramuka yang seperti diinginkan BP dalam bukunya “Scputing For Boys”. Namun naif, ternyata yang terjadi adalah kegiatan tersebut dilaksanakan layaknya Lomba Tingkat Penggalang (LT) yang iklimnya adalah “Persaingan dan Adu Kemampuan”. Sungguh ini jauh dari harapan, baik adik & kakak pelaksana Program Siklus maupun “Scouting For Boys”. Di sana, hanya adik dan kakak pelaksana Program Siklus saja yang kelihatan selalu bersahabat dan ramah baik pada sesama peserta maupun lingkungan.
Hal-hal yang sungguh menyesakkan benak yang terjadi antara lain:
1. Tempat cuci piring yang pembuangannya melalui sebuah pipa kelihatan sangat kotor dan nyaris buntu oleh sampah. Kemudian dibersihkan oleh adik-adik Program Siklus dan di sampingnya dipasang tempat sampah. Namun berapa jam kemudian, kotor lagi. Padahal tempat sampah itu disediakan hanya berjarak maks 3 meter dari titik keran terjauh. Ckckckckck . . . .
2. Lomba-lomba yang ditawarkan adalah untuk mencari yang terbaik di antara semua peserta dan bukan untuk maksud mendidik. Bayangkan saja, dari awal sudah diumumkan bahwa lomba masak hanya menggunakan kompor lapangan (khusus di perkemahan), namun pemenangnya justru adalah yang menggunakan kompor BLUE GAS (sejak kapan blue gas termasuk peralatan kemah ? Kalo Survival bisa dibawa gak ya ?)
Nah, kalo seperti itu, mana yang menggambarkan bahwa itu kegiatan pramuka?
Marilah hal ini kita jadikan bahan perenungan bahwa pramuka di daerah kita sekarang sudah seperti ini.
Salam Pramuka










